Latest Entries »

Situasi Tidak Berdaya

Ada kalanya kita masuk dalam situasi tidak berdaya.
Kita mengalami kerapuhan, patah semangat, merasa mempunyai banyak masalah, lesu, tak ada gairah untuk hidup yang penuh tantangan.

Tidak ada hal dari dalam hidup kita yang dapat membangunkan semuanya itu selain semangat dan keyakinan bahwa kita bisa. Keyakinan diri yang kuat di mana muncul dari doroangan hati inilah yang akhirnya mensugesti kita untuk bangkit dari keterpurukan.

Dalam keadaan sakit fisikpun keyakinan diri dan semangat yang tinggi bahwa kita pasti sembuh juga dapat mensugesti kita sehingga kehendak kita yang kuat untuk sembuh itu juga mempengaruhi psikis.
Psikis yang sehat mendorong sakit fisik menjadi lebih ringan.
Sebaliknya jika kita selalu mengeluh dan selalu putus asa terhadap sakit kita, psikis kita pun menjadi lemah dan semakin mempengaruhi kelemahan tubuh kita.

Sudahkah aku memiliki semangat yang tinggi untuk lepas dari situasi tidak berdaya yang kadang menghimpit hidupku?

Tetap bersemangat untuk bangkit dari kelemahan-kelemahan kita!

Tuhan memberkati ^_^

Advertisements

Love Questions


If you’re in love with two people pick the second. Because if you truly loved the first, you wouldn’t have fallen for the second.

There was this woman who loved two men at the same time but she didn’t know which one she loved more. Someone taught her.

Ask yourself this question and answer it honestly :

“When you are happy, which men would you want to share your happiness with?” The one you think of is someone you love.

Ask yourself another question and answer it honestly :

“When you are sad, which men you want to share your burden with?” The one you think of is also someone you love.

If you think of the same men when you are happy and sad, that’s the most perfect. But if you don’t think of the same men, I would advise you to chose the one you are willing to share your sadness with.
In life, there are more sorrows than happiness. There are too many people that you meet that you can share your happiness with, not necessary your lover. If you live your life happily, you can also enjoy it alone. In sadness, however, there are not many people willing to share your burden with you. If you are willing to tell someone your happiness, I am sure that person has got to be someone close and an understanding person to you.

But it shouldn’t stop there. If that person only thinks of you when he is happy, but looks for someone else when he is sad, this lover is too unstable, he doesn’t treat you as someone he can spend the rest of his life with.

If you are sad, who comes to your mind first???

Who Norma..???

Positivity..


I need to stop moping around so much.

I feel like a pain in the ass.
This act can only last so long.
I have one reason to be sad, but thousands more to be happy.
Why am I focusing so much on the sad part?

I miss the me who use to not give a whole crap about love.
I miss the me who could smile and keep her mouth shut instead of frowning and complaining too much.

I need a day off for myself.
Just me, myself, and I on the beach… relaxing.
Maybe next December… I hope that won’t be too far for me to wait.
I hope I don’t go insane while I wait.

** Don’t Worry Long Distance Relationship Won’t Kill You..! !

~~ This long distance is killing me, I wish that you were here with me, But we’re stuck where we are And it’s so hard,you’re so far, This long distance is killing me (long distance-Bruno Mars).

Pilihan kebanyakan orang untuk menjalani suatu hubungan (pacaran) adalah “bersama” (baca : memiliki kedekatan fisik). Robert Sternberg, seorang psikolog mengatakan bahwa : keintiman atau kedekatan fisik merupakan elemen emosi, di dalamnya terdapat kehangatan, kepercayaan (trust) dan keinginan untuk membina hubungan.
Lantas bagaimana dengan Long Distance Relationship (LDR) atau hubungan jarak jauh?
Buku “Would You Do It Again? Relationship Gained in a Long-distance Relationship” karya Mietzner menjelaskan : LDR adalah ketika seseorang berada minimal 50 mil dari pasangannya dan dalam jangka waktu minimal tiga bulan.
********************************************************
** LDR is about Commitment not LOVE..!!

LDR atau biasa disebut Long Distance relationship memang sangat rentan bagi mereka yang menjalani hubungan seperti ini. Resiko yang saya maksudkan dalam hal ini adalah kurangnya frekuensi pertemuan dan pentingnya untuk menjaga rasa saling percaya antar pasangan dan tak jarang perasaan saling curiga merupakan pemicu utama pasangan yang memilih hubungan LDR.

Tulisan ini saya buat karena berdasarkan pengalaman pribadi. Baru beberapa menit yang lalu saya membuka kaskus pada forum H2H alias Heart to Heart. Ternyata disana banyak sekali permasalahan tentang hubungan jarak jauh. Bagi saya pribadi sangat setuju dengan salah satu pendapat moderator yang memberikan saran pada beberapa orang yang bermasalah tentang LDR satu baris kalimat yang membuat saya kembali merenung dan meng-kroscek kembali apa yang ada didalam hati dan apa yang saya inginkan dalam hubungan LDR.

Satu statement yang simple dan tegas menurut saya.. “ LDR is about COMMITMENT not LOVE”. Mungkin bagi sebagian orang yang membaca tulisan saya ini akan protes dan berujar “Loh bukan dalam suatu hubungan memang harus ada cinta? kalau tidak ada cinta rasanya bukan pacaran..”

Ya pendapat yang seperti itu bisa dibenarkan . mengapa komitmen dan bukan cinta? Karena bagi saya cinta mudah menghilang, mudah pudar dan pupus dengan hadirnya orang baru yang “mungkin” lebih baik, apalagi jika menemukan orang yang baru kita mulai membanding – bandingkan pasangan kita dengan orang tersebut. Kurangnya komunikasi dan salah paham merupakan masalah utama dalam hubungan jarak jauh. TAPI jika pasangan kita maupun diri kita sendiri sudah BERKOMITMEN , maka semua godaan yang ada akan berlalu begitu saja dan hubungan kita menjadi tidak tergoyahkan. Komitmen adalah sesuatu yang dipercaya, diperjuangkan dan dicapai bersama. Itulah mengapa komitmen kadang lebih kuat dalam mengikat pasangan daripada cinta.

Saya beri contoh, jika dalam hal berpacaran saja kita sudah berani melakukan selingkuh dengan berbagai alasan jika pasangan kita sudah tidak memberikan perhatian. Apakah itu alasan yang logis? Bagaimana jika sudah menikah? Apa kata – kata ini akan digunakan sebagai pembelaan kita terhadap pasangan?dan wajarkah itu? Setelah dipikir – pikir dan berdasarkan prinsip saya sendiri. Kata – kata seperti itu tidak layak dan sangat kekanak – kanakan. Bukan seharusnya kata – kata yang keluar dari sebuah hubungan yang dewasa. View full article »