Ini bukan tentang saya yang pengin cepet married, akan married atau kebelet married, bukan itu. Usia saya masih belasan tahun, (belasan tahun yg lalu) hahahahha..😀😀
masih panjang jalan yang saya tempuh dan masih banyak mimpi yang ingin saya raih..

(Cicilan motor masih rada panjang, usaha minimalis [minimal mall], wkwkkww..😛😛 , mimpi punya rumah, punya mobil, dll)

Lagi pula, aku ga mau ach, kayak ertong2 yang doyan gonta ganti pasangan..

iiihhh, sereeeeeeeeeeeeeem..😦

Kebetulan aja, kemarin saya baca sekilas buku yang berjudul “After The Honeymoon”.

Kisah tentang Bara dan Ata yang telah lama pacaran dan saling mencintai kemudian akhirnya memutuskan menikah. Merekapun hidup bahagia selamanya dan finish???

Enggak!!!!! Usai bulan madu begitu banyak konflik yang harus dilewati. Finally, Ata merasa, bahwa Bara yang dulu dibanggakannya ternyata bukan suami yang tepat untuknya.

Oh…itu mengerikan saudara-saudara..

I hear that the marriage is…

Kebahagiaan paling indah pernikahan itu indah pada saat 3 bulan pertama atau maksimal tahun pertama saja, setelah masa bulan madu berlalu, akan dihadapkan pada sebuah kenyataan tentang keburukan dan kekurangan yang engga pernah terlihat saat masa pacaran.

Menikah itu sama saja menyatukan dua keluarga. Itu artinya, harus siap menghadapi mertua yang cerewetnya minta ampun, sodara ipar yang suka iri dan mencela segala kekurangan atau rela dititipin keponakan yang buandeeellnya ga ketulungan.

Katanya sih, married itu bukan kaya pacaran gitu, bukan sekedar seneng-seneng. Jalan berdua, makan bareng, becanda-becanda trus kemudian kalo jauh sms-an dan telpon-telponan.

Begitu banyak masalah kompleks yang dihadapi, tentang atap rumah yang bocor, popok bayi yang belum kebeli atau sekedar tagihan rutin bulanan yang harus dibayar.

Padahal kan harusnya menikah itu enak, bisa sharing, bisa curhat setiap hari, bisa bermanja-manja setiap hari, bisa hidup lebih teratur.

Namun, katanya tiap hari bersama lama-lama juga bisa boseeennnn banget, tiap hari ketemu dari mulai bangun pagi sampai matahari tenggelam, dengan aktivitas dan masalah yang hampir sama setiap hari dari tahun ke tahun hingga memicu perselingkuhan.

Saya dengar kalo waktu pacaran mesra habis kaya Romeo dan Juliet, pas nikah jadinya malah kaya Beo dan Toilet. Gak nyambung dan cenderung saling menyalahkan. Benarkah begitu??

It was terrible…Really terrible

Lha terus kalo nanti saya menikah bagaimana??? Ndilalah, saya ini orangnya suka bosenan terhadap suasana monoton. Rutinitas yang itu itu saja.

Emangnya bisa ya kalo cewe itu poliandri? *gabruuuuukkk…suara selusin sendal melayang.*

Mungkin salah satu alternative buat saya, maka saya harus merancang sebagus mungkin pernikahan dan masa awal pernikahan agar pada saat memasuki masa kebosanan saya gak nyesel.

Note: Cuma isi Otak duank..
JANGAN DIBAWA SERIUS.. !!😀