Untung pacarku bukan Superman,

Jadi aku tak perlu repot-repot menjelaskan kepada orang tuaku.
Bila suatu saat aku perkenalkan pada mereka,
Mengapa ia selalu memakai celana dalam berwarna merah menantang di luar.
Atau kepada siapa ia meminjam korden saat dia terbang kesana kemari.

Aku tak perlu merasa risih acapkali menatapnya
Mengenakan pakaian superketat
Dengan memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhnya
Serta beberapa bagian yang menonjol.

Untung pacarku bukan Superman,

Dengan hobbyku yang kerap hang out.
Aku sungguh tak bisa membayangkan
Bagaimana ekspresi orang-orang yang melihatnya
Saat ia kuajak shopping di mall.

Sementara ia mengenakan “seragam” lengkapnya.
Membuat semua mata tertuju pada tubuh “aduhainya”
Lalu para gadis sibuk menatapnya dengan semangat.
Sifat cemburuku pasti meradang berat
Pastinya aku akan melemparnya dengan 10 cm stiletto hitamku.

Untung pacarku bukan Superman,

Tentu betapa repotnya aku
Bila suatu saat aku kelak menjadi istrinya
Aku harus menyediakan sarapan sebakul nasi, 12 butir telur ayam kampung,
se ember susu dan sekaleng selai nenas
atau setandan pisang.

Bila dihitung-hitung dalam masa krisis ekonomi seperti saat ini
maka dalam waktu tiga bulan pasti kami akan bangkrut
Gara-gara memenuhi selera makannya yang super gila-gilaan.

Untung pacarku bukan Superman,

Yang mempunyai mata tembus pandang
Dapat memindai sesuatu dari kejauhan.
Sehingga aku tak perlu was was saat dia mulai jenuh.
Melihat tubuhku nan cihuy ini
Mulai ditumbuhi deposit lemak disana-sini serta melar seperti gentong.

Lalu ia dengan mudahnya mengalihkan matanya belanja kemana-mana menembus pandang gadis-gadis yang tubuhnya aduhai bak gitar.

Untung pacarku bukan Superman,

Saat ia lebih suka menghabiskan waktunya berjam-jam pergi ke gym
Demi mempertahankan tubuh gempalnya serta perut six pack nya
Hingga waktu kencan denganku hanya tersisa seper sepuluh dari waktunya.
Aku tak harus membaca buku-buku atau majalah
Tentang “bagaimana membentuk body sebohay Ade Rai”
Agar bisa selalu nyambung saat berdiskusi dengannya.

Untung pacarku bukan Superman,

Sehingga aku tak perlu belajar bagaimana mengendalikan mabuk udara.
Saat ia mengajakku berkencan terbang mengelilingi awan di langit.
Sebab aku mengerti betul kelemahanku.
Yang tak berani berada di ketinggian beberapa ratus meter dari tanah.
Perutku akan mual-mual dan kepalaku pening
Saat tubuhku dihajar angin kencang bertiup.

Aku pasti akan muntah dari atas
Dan takutnya akan mengotori kepala siapa saja
Yang saat itu tepat ada dibawahku.
Kemudian aku malah dituduh mengotori ekosistem.

Susah kan?

Untung pacarku hanyalah seorang manusia yang biasa saja,

Namun sanggup membuat aku bisa jatuh cinta padanya secara simple.
Dan mengagumi pandangan hidupnya secara mudah.

Aku bisa menyukainya sebagai seseorang
Yang kemudian selalu ketagihan mendengarkan aku bicara
Mengerti segala keluh kesah
Memperhatikan setiap kelemahan dan kelebihanku.